Perlahan, bus listrik tak lagi hanya melintasi jalanan Jakarta. Semakin banyak kota dari berbagai belahan Indonesia mulai mengambil langkah menuju elektrifikasi, meski jalan yang ditempuh dan tantangan yang dihadapi tidak selalu sama.
Namun, di tengah perkembangan ini, bagaimana pemerintah pusat dan daerah dapat merencanakan transisi bus listrik dengan lebih matang? Untuk menjawab kebutuhan tersebut, ITDP Indonesia dengan dukungan ViriyaENB, mengembangkan E-Bus Hub, sebuah platform digital yang dapat membantu pemerintah merencanakan dan mengimplementasikan elektrifikasi bus dengan lebih matang.
Bus Listrik Tumbuh, Bus Diesel Berganti
Langkah untuk mengelektrifikasi bus merupakan perkembangan yang tepat ke angkutan umum perkotaan yang ramah lingkungan. Bus listrik menawarkan peluang untuk mengurangi emisi gas buang kendaraan dan menurunkan emisi gas rumah kaca (GRK). Selain itu, inisiatif ini dapat mendukung target Kementerian Perhubungan untuk menurunkan emisi GRK sektor transportasi sebesar 8,78 juta ton CO₂e pada 20291.
Selain DKI Jakarta, Kota Medan, Surabaya, Yogyakarta, dan Semarang mulai mengganti sebagian armada dieselnya dengan bus listrik. Surabaya menjadi yang pertama memulai elektrifikasi di tahun 2024 dengan 13 unit, diikuti dengan Medan di tahun 2025 sebanyak 60 unit, lalu Yogyakarta pada 2026 dengan 2 unit. Pada bulan September ini, Trans Semarang mulai mengoperasikan 27 bus listrik secara bertahap di Koridor 12. Selain itu, Trans Banjarbakula di Kalimantan Selatan telah menghadirkan bus listrik dalam layanannya pada 1 Oktober.2
Perkembangan serupa juga terlihat di kota-kota lain. Kota Banda Aceh, Bogor, Pekanbaru, dan Jambi turut menjajaki teknologi ini melalui uji coba. Trans Sarbagita di Bali baru-baru ini menerima 11 bus listrik yang dilaporkan akan beroperasi di awal November3, sedangkan Batam merencanakan pengadaan 10 mikrobus listrik untuk layanan pengumpan pada 20274. Di Payakumbuh, pemerintah kota tengah mengkaji pengoperasian angkutan umum listrik dengan prioritas layanan bagi pelajar5, Kabupaten Banyumas merencanakan penambahan bus listrik secara bertahap untuk layanan Trans Banyumas6, lalu Serang yang menargetkan operasional bus listrik pada Januari 2027, melalui kerja sama dengan Perum DAMRI7.
Inisiatif-inisiatif tersebut menunjukkan bahwa komitmen untuk beralih dari bus berbahan bakar fosil semakin meluas. Namun, minat untuk menggunakan bus listrik belum selalu diikuti kesiapan pemerintah daerah untuk mengoperasikannya. Setiap kota juga memiliki tantangan yang berbeda.
Dalam lokakarya peningkatan kapasitas yang dilaksanakan ITDP Indonesia pada 11-12 Agustus 20269, perwakilan pemerintah Yogyakarta dan Medan membagikan pengalaman dalam mengoperasikan bus listrik. Yogyakarta menyoroti investasi pembangunan SPKLU, tarif listrik, dan keterbatasan anggaran sebagai tantangan dalam mengelektrifikasi layanan Trans Jogja. Sementara itu, di Medan, antusiasme masyarakat terhadap bus listrik terlihat dari jumlah penumpang yang terus meningkat setiap triwulan. Pertumbuhan pengguna ini juga perlu diimbangi dengan kesiapan kelembagaan untuk mengelola operasional layanan.
Pengalaman kedua daerah tersebut menunjukkan bahwa perencanaan elektrifikasi perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing kota. Pemerintah daerah tidak hanya perlu menentukan jumlah dan jenis armada yang akan diadakan, tetapi juga memastikan kesiapan rute, jarak tempuh, pola operasional, lokasi pengisian daya, serta kebutuhan pemeliharaan sesuai dengan kondisi setempat.
Lantas, ketika sebuah kota ingin mulai beralih ke bus listrik, dari mana perencanaannya sebaiknya dimulai?
Dari Informasi yang Tersebar Menuju Perencanaan yang Lebih Terpusat
Pertanyaan tersebut berulang kali muncul selama ITDP Indonesia mendampingi penyusunan peta jalan elektrifikasi bus di tingkat nasional maupun daerah. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan operator memerlukan informasi yang mudah diakses sekaligus alat bantu untuk menerjemahkannya menjadi rencana. Kebutuhan ini terutama penting bagi daerah yang baru memulai dan belum memiliki pengalaman atau sumber daya teknis sebesar kota-kota yang lebih dulu mengoperasikan bus listrik.
Informasi mengenai aspek-aspek tersebut sebenarnya sudah tersedia dalam berbagai studi, laporan, regulasi, dan sumber lainnya. Namun, informasi yang tersebar membuat proses mengumpulkan dan membandingkannya membutuhkan waktu serta kemampuan teknis. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, ITDP Indonesia, dengan dukungan ViriyaENB, mengembangkan E-Bus Hub, platform digital yang menggabungkan data perkembangan bus listrik, perangkat simulasi, dan referensi perencanaan dalam satu tempat.
Lewat E-Bus Hub, pemerintah daerah dapat membandingkan beberapa skenario penggantian armada dengan mempertimbangkan jarak tempuh, kebutuhan biaya, dan potensi pengurangan emisi. Bagi daerah seperti Yogyakarta yang menghadapi tantangan biaya dan anggaran, kalkulator E-Bus Hub dapat membantu mengidentifikasi faktor yang paling memengaruhi hasil perhitungan, sehingga asumsi dan skala implementasi dapat ditinjau kembali sebelum masuk ke analisis lebih mendalam. Sementara itu, daerah seperti Medan dapat memanfaatkan referensi kebijakan, kelembagaan, dan perencanaan yang tersedia di laman Riset dan Wawasan E-Bus Hub sebagai salah satu bahan untuk mempersiapkan pengelolaan layanan.
Hal ini penting karena elektrifikasi tidak seharusnya berhenti pada penggantian teknologi kendaraan saja. Transisinya juga perlu menjadi momentum dalam mereformasi layanan transportasi publik dan memperbaiki kualitas layanan angkutan umum: mulai dari cakupan rute, keandalan operasional, hingga kemudahan masyarakat dalam mengaksesnya.
Satu Platform, Banyak Jalan Menuju Elektrifikasi
E-Bus Hub tidak menentukan satu resep elektrifikasi untuk seluruh kota. Sebaliknya, platform ini membantu pengguna mengenali perkembangan yang ada, memeriksa berbagai asumsi, dan mengeksplorasi pilihan sesuai kondisi daerahnya. Dengan begitu, diskusi transisi bus listrik bisa dimulai dari pertanyaan yang lebih konkret: layanan mana yang akan ditingkatkan, berapa biaya yang diperlukan, dan apa yang harus dipersiapkan agar bus tetap melayani penumpang dalam jangka panjang.
Jelajahi E-Bus Hub melalui buslistrik.itdp-indonesia.org untuk melihat peta perkembangan bus listrik, mencoba kalkulator, dan mengakses referensi perencanaan bagi kota Anda



